7 Pelajaran Tentang Hidup

Standar

BANGUNKAN RAKSASA DI DALAM DIRI ANDA

Takaran Anda Yang Sebenarnya Diukur Dari Keberanian, Kearifan dan Cinta Anda. (Thanks To: Venny) Bahkan sebagai bayi gajah sekalipun, Bulig sangat besar. Ketika Bulig bertumbuh dewasa, ia lebih tinggi dan lebih besar dari semua teman-teman sepermainannya. Tidak perlu waktu lama hingga gajah lain merasa takut padanya. Dan Bulig mengetahui hal ini. Karena itu ia menggunakan ukurannya untuk menakuti yang lain untuk melakukan apa yang ia ingin mereka lakukan… Ia akan mendengus dan menggeram sambil berkata, “Aku akan remukkan kamu!” Itu merupakan salam yang biasa ia katakan pada siapapun yang ia jumpai di jalan. Kenyataannya, jika gajah-gajah lain merasa takut pada Bulig, binatang-binatang kecil lainnya juga demikian. Para monyet, kijang, harimau dan bahkan singa pun terkagum-kagum terhadap binatang yang sangat besar itu. Para gajah memberinya sebuah rumah istimewa di puncak sebuah bukit kecil. Dan tahta Bulig adalah sebuah ranjang berukuran raksasa. Disitulah ia berbaring dan memerintah seluruh hutan. Setiap pagi, para gajah akan memberinya sekeranjang pisang. Dan para monyet akan memberinya sekeranjang apel. Dan kijang akan memberinya sekeranjang kacang. Hal ini terjadi setiap hari. Karena itu Bulig bertumbuh semakin besar. Dan semakin ia bertumbuh, semakin takutlah binatang-binatang terhadapnya. Ia sekarang menjadi sesosok dewa bagi seluruh binatang di sana . Sekelompok burung undan bergantian mengipasinya. Sekelompok burung parkit bernyanyi baginya setiap pagi. Sekelompok kera berakrobat sebagai hiburan malam baginya. Untuk waktu yang sangat lama, Bulig jarang meninggalkan rumahnya. Sebenarnya, selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah berdiri dari ranjang raksasanya. Yang ia lakukan hanyalah mendengus dan menggeram sesekali waktu, “Aku akan remukkan kamu!” Dan setiap kali ia mengatakan itu, semua binatang akan sangat ketakutan. Karena ia tidak banyak bergerak, ia menjadi segemuk seperti sepuluh gajah yang dijadikan satu! Sekarang, bahkan binatang-binatang lain dari hutan-hutan lain pun datang berkunjung untuk melihat dengan mata kepala sendiri kalau Legenda Gajah Raksasa itu benar adanya. Dan mereka semua akan berdiri ketakutan melihat makhluk yang sangat besar itu. Salah satu binatang itu adalah seekor kura-kura kecil bernama Pokito. Pokita mendengar tentang gajah ini dan ingin melihatnya. Sebagai seekor kura-kura muda dan senang bermain, ia berpikir akan luar biasa sekali jika dapat berteman dengan gajah raksasa itu. Maka suatu hari, ia menghampiri Bulig yang tampak seperti sebuah gunung dibanding dirinya. Tapi Pokito tidak takut. Ia berkata, “Hi Bulig besar! Bolehkah aku menjadi temanmu?” Semua binatang di sekitar Bulig menahan nafas dengan tegang. Siapa yang berani berbicara seperti itu pada Bulig? Apakah ia sadar apa yang sedang dikatakannya? Kura-kura malang ! Bulig merasa terhina karena seekor makhluk kecil itu tidak menyembahnya sebagai dewa. Maka ia mendengus dan menggeram seperti biasanya dan berkata, “Aku akan remukkan kamu!” Namun Pokito adalah seekor kura-kura bijak. Ia melihat ada kelemahan besar di balik ukuran tubuh Bulig. Ia kasihan padanya. Karena itu ia hanya berkata, “Bulig, aku hanya ingin menjadi temanmu. Jika engkau tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan tetap gembira…” Ketika ia membalikkan badan, Bulig bahkan menjadi lebih marah dan mendengus dan menggeram lagi dan berkata dengan suara yang lebih keras, “AKU AKAN REMUKKAN KAMU!” Semua binatang lari terbirit-birit ke belakang semak-semak, batu-batu, dan pohon-pohon. Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar Bulig marah sedemikian rupa. Pokito membalikkan badan menghadap raksasa itu lagi dan berkata dengan tenang, “Bulig, aku tidak akan melakukan itu kalau aku jadi dirimu. Engkau akan menyakiti dirimu sendiri…” Wajah Bulig merah padam seperti sebuah mobil pemadam kebakaran. Ia berdiri. Atau paling tidak ia berusaha. Ingat, sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir kali berdiri! “Ummph… Ummmph…. Ummmmmmmmmph!” Berkali-kali Bulig mencoba namun ia tak dapat berdiri! “Bulig, jangan lakukan itu…,” kata Pokito. Semua binatang keluar dari persembunyian mereka. Mereka sangat terkejut melihat dewa mereka mengalami kesulitan untuk berdiri! Akhirnya, kaki Bulig tertekuk dan ia jatuh ke tanah. Whaaam! Sekarang Bulig kesakitan, tapi penghinaan yang dialaminya jauh lebih besar dari sakit fisik yang ia alami saat itu. Pertama, seekor monyet kecil mulai mengejek. Tak lama, monyet-monyet lain melakukan hal yang sama. Dan setelah beberapa saat, semua binatang mulai mempermalukan Bulig. Mereka mencemooh dan memberinya julukan. “Makhluk lemah!”, “Si Gendut!”, dan “Gudang lemak!” Tiba-tiba Pokito berteriak, “Hentikaaaaaaaaaaan!” Semuanya berdiam diri di hadapan kura-kura pemberani ini. “Selama bertahun-tahun, kalian menyembah Bulig sebagai dewa,” kata Pokito, “tapi sekarang, kalian menghinanya seperti musuh. Mengapa kalian lakukan itu? Bulig hanyalah salah satu dari kita, sama seperti binatang lainnya.” Pokito berjalan mendekati Bulig yang tertunduk dan dipenuhi rasa malu serta berkata, “Apakah engkau butuh bantuan untuk berdiri?” Dengan perlahan, Bulig menganggukan kepalanya. Kura-kura itu berbalik ke gajah-gajah lain, “Bantu temanmu berdiri.” Gajah-gajah lain takjub dengan kearifan kura-kura kecil ini. Mereka semua berdiri di samping raksasa itu, dan bersama-sama, mengangkatnya. Dengan upaya yang keras, gajah raksasa itu berdiri. Dengan lututnya yang masih gemetar, Bulig tersenyum kepada kura-kura itu dan berkata perlahan, “Terima kasih. Engkaulah raksasa sesungguhnya.” Pokito tersenyum. “Terima kasih.” Bulig bertanya, “Maukah engkau menjadi temanku?” Kura-kura itu berkata, “Dengan satu syarat. Engkau harus jogging bersamaku setiap pagi.” Ia berkedip. Dan semua binatang tertawa serentak. 7 PELAJARAN TENTANG HIDUP Saya menulis cerita pendek ini untuk Mustard, sebuah majalah anak-anak. Tapi pelajaran yang luar biasa dalam cerita itu tidak hanya untuk anak-anak. Sebenarnya, saya percaya orang-orang dewasa lebih perlu mendengarkan ini daripada anak-anak ! Berikut adalah 7 pelajaran tentang mengubah hidup dari cerita tersebut: Pelajaran #1: Jangan mencari penyembah-penyembah ; tetapi carilah sahabat-sahabat sejati… Tidak semua teman diciptakan sama. Beberapa teman hanyalah penggemar. Mereka mengagumi Anda. Mereka menyanjung Anda. Mereka takut terhadap Anda. Mereka mengambil keuntungan dari Anda. Namun ketika Anda membutuhkan mereka, mereka tidak ada. Pilihlah sahabat sejati daripada penggemar. Ketika Anda mengalami kesulitan, mereka akan tetap berada di sisi Anda. Pelajaran #2: Cara terbaik untuk mencari seorang sahabat sejati adalah menjadi seorang sahabat sejati. Apakah Anda seorang sahabat sejati? Apakah Anda memberikan perhatian kepada orang lain? Apakah Anda menunjukkan kasih Anda terhadap mereka dengan cara yang tidak biasa? Investasi terbaik yang akan pernah Anda lakukan adalah dalam relasi Anda. Di situlah harta Anda berada. Pelajaran #3: Penggertak itu lemah. Hindari atau tentanglah, namun jangan pernah takut terhadap penggertak. Apakah Anda punya penggertak dalam hidup Anda? Anda akan selalu berhadapan dengan para penggertak. Mereka mengintimidasi orang. Mereka ingin Anda merasa takut terhadap mereka. Mereka memanipulasi Anda untuk mengikuti mereka. Tergantung situasi, Anda dapat menghindari atau menentang mereka. Namun jangan pernah takut terhadap mereka. Karena semua penggertak adalah palsu. Dengan paksaan, mereka menutupi kelemahan yang ada di dalam diri mereka. Tapi jauh di dalam, seorang penggertak adalah seorang anak rapuh yang memiliki banyak ketakutan. Pelajaran #4: Ketika seseorang tidak suka menjadi temanmu, biarkan saja dan tetaplah bersukacita. Hidup terlalu indah untuk disesali hanya karena penolakan seseorang. ‘Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain’ ingin menyenangkan setiap orang. Dan ketika seseorang menolak mereka, mereka akan tewas. Karena mereka memerlukan perasaan dibutuhkan. Ketika seseorang menolak mereka, mereka sangat terluka – dan membawa luka ini ke manapun mereka pergi dan membiarkan luka ini berdampak bagi hidup mereka selamanya. Apa yang dilakukan seorang yang dewasa ketika mereka mengalami penolakan? Mereka juga terluka sama seperti orang lain namun mereka tidak membawa luka itu terus-menerus. Mereka mengebaskan debu di kaki mereka dan terus maju. Mereka mencintai diri mereka. Mereka mencintai hidup. Pelajaran #5: Ketika seseorang marah terhadap Anda dengan cara yang tidak adil, kasihanilah orang itu. Ia akan menyakiti dirinya sendiri. Jangan mengasihani diri sendiri ketika Anda menerima kemarahan yang tidak adil. Ingatlah bahwa kemarahan yang tidak adil itu menghancurkan orang yang marah, bukan Anda. Kasihanilah orang itu. Pelajaran #6: Selalu bersikap baik dan ramah kepada setiap orang – entah dia itu seorang raja atau seorang pengemis. Setiap manusia yang Anda temui dalam hidup adalah anak-anak Tuhan. Entah ia duduk di atas tahta atau terbaring di lumpur, tak ada bedanya. Orang tersebut adalah keluarga Anda. Pelajaran #7: Takaran Anda yang sesungguhnya diukur dari keberanian, kearifan dan cinta Anda. Apakah Anda seorang yang besar? Ukurlah keberanian dan kearifan Anda. Dengan cara Anda mengasihi, Anda bisa tahu apakah Anda sudah dewasa dalam hidup atau tidak. Semoga impian Anda menjadi kenyataan… !!!! Salam, Sophie Beatrix Rundengan

4 responses »

  1. nama:selfi oktifani p
    kelas:3kebun
    Terima kasih atas didikan bapak ibu guru yang selama ini di berikan kepada saya,sehingga saya mendapatkan ilmu dan pengalaman.
    jangan putus asa ya pak dalam mengajar kami semua.
    SMK N KALIBAGOR
    IS THE BEST

  2. Nama:khusnul kh.
    Kelas:3kebun
    saya cukup bangga bisa menjadi siswi smk kalibagor,semua fasilitas cukup memadai
    semoga smk n 1 kalibagor bisa menjadi lebih baik dan fasilitas di sekolah dapat lebih memadai
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s